Ahad, 10 Oktober 2010

Sejarah Paroki Santo Mikael Surabaya

Pada mulanya Gereja St. Mikael hanya sebagai salah satu stasi dari Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria. Namun karena wilayahnya cukup luas dan jumlah umat pada masa itu sudah cukup banyak, maka pada tahun 1947 (dimasa penjajahan Belanda) telah diputuskan untuk mendirikan Gereja baru di wilayah Pelabuhan Tanjung Perak dan memilih Santo Mikael untuk menjadi pelindungnya. Demikianlah Gereja baru ini diberi nama Gereja Santo Mikael, Tanjung Perak Surabaya.

Romo pertama yang bertugas di stasi Santo Mikael adalah Romo J. Holtus, CM, dengan jumlah umat sekitar 50 orang, yang sebagian besar terdiri dari orang-orang Belanda. Untuk merayakan Ekaristi suci pada hari Minggu dan hari-hari besar Gereja, sementara menggunakan asrama tentara yang terletak di sudut jalan Jakarta dan jalan Kebalen Timur, mengingat waktu itu stasi belum mempunyai gedung Gereja.

Pada tahun 1952, Romo J. Holtus, CM diganti oleh Romo H. Kock, CM dan tempat ibadah dipindahkan ke tempat baru yaitu sebuah gedung semi permanen bekas gudang mesiu tentara Jepang, berukuran 30m x 8m, yang terletak di Colombo Straad atau sekarang dikenal Jl. Tanjung Sadari 47. Bangunan tersebut mampu menampung + 200 orang. Dalam waktu singkat perkembangan jumlah umat cukup menggembirakan, terutama orang-orang yang datang dari pedalaman atau luar pulau Jawa, walaupun sudah dikurangi dengan orang-orang Belanda yang sudah kembali ke negerinya, bangunan Gereja sudah tidak dapat lagi menampung jumlah umat yang beribadat.

Belum sempat memikirkan untuk membangun gedung Gereja baru, pada tanggal 19 Desember 1959, seminggu sebelum perayaan Natal, tepat pk 18.30 angin taufan yang sangat kencang sekonyong-konyong datang merobohkan dan menghancurkan seluruh gedung Gereja. Bersyukur bencana tersebut tidak menelan korban jiwa, hanya sebatas luka-luka ringan yang dialami oleh anggota Koor yang saat itu sedang berlatih menyiapkan lagu-lagu untuk perayaan Natal.

Dalam peristiwa roboh dan hancurnya bangunan Gereja tersebut, ada satu benda yaitu patung Bunda Maria tetap tegak berdiri dalam keadaan utuh ditengah reruntuhan gedung Gereja, sedangkan Hosti Kudus yang berada didalam tabernakel diselamatkan oleh Romo H. Kock, CM ke Gereja Kelahiran Perawan Maria. Sekarang patung Bunda Maria tersebut ditempatkan didalam Gereja Santo Mikael.

Adanya peristiwa tersebut diatas mendorong umat segera memikirkan dan berupaya untuk membangun gedung Gereja baru. Berkat partisipasi aktif dan kerja keras dari seluruh lapisan umat, dalam waktu relatif singkat + selama 1 tahun, tepatnya pada tahun 1960, Gereja baru sudah berdiri diatas areal tanah seluas 100m x 100m, terletak di sebelah barat gedung Gereja lama, yang sekarang dikenal dengan nama Jl. Tanjung Sadari 49 Surabaya. Dengan berdirinya gedung Gereja yang baru, maka pada tanggal 1 Januari 1961, stasi Perak ditingkatkan statusnya menjadi Paroki yaitu Paroki Santo Mikael, Tanjung Perak Surabaya, dengan Romo H. Kock, CM sebagai Romo Paroki.

Karena usia Romo H. Kock, CM semakin tua dan kesehatannya sering terganggu, maka awal tahun 1966 beliau kembali ke negeri Belanda dan untuk sementara diganti oleh Romo A.V. Rijnsoever, CM yang bertugas di Paroki St. Mikael sekitar setengah tahun. Pertengahan tahun 1966, Romo J. Holtus, CM kembali ke Paroki St. Mikael. Romo J. Holtus, CM adalah Romo yang sampai saat ini tercatat paling lama bertugas di Paroki St. Mikael. Beliau baru diganti pada tahun 1980 oleh Romo L.V. Cahyo Kusuma, CM. Tahun 1985 Romo Cahyo Kusuma, CM diganti oleh Romo Philipo Catini, CM. Tahun 1990 Romo Philipo Catini, CM dipindahkan ke Ngawi.

Sejak ditinggalkan Romo Philipo Catini, CM, Paroki St. Mikael sempat mengalami kekosongan Pastor, yaitu mulai bulan Januari 1991 s/d April 1991, untuk mengisi kekosongan Pastor tersebut, telah ditugaskan Romo Haryo Subiyanto, CM sebagai Romo pengganti sementara di Paroki St. Mikael. Mulai bulan Mei 1995, Romo B. Martokusuma, CM ditempatkan sebagai Romo Paroki St. Mikael. Menjelang akhir tahun 1998, Romo B. Martokusuma, CM digantikan oleh Romo Stanislaus O. Beda, CM sampai dengan tahun 2001.

Pada waktu Romo Stanislaus terjadi pembangunan Pastoran baru dan renovasi SD & SMP Katolik St. Mikael. Selanjutnya Romo Stanislaus digantikan oleh Romo B. Bani Suatmadji, CM sampai akhir September 2008. Pada waktu Romo Bani, telah dilakukan renovasi total terhadap bangunan Gereja yang sudah berdiri sejak tahun 1960 dan juga balai pertemuan atau joglo serta gua Maria.

Sekarang Rm.Noel yang menggembalakan umat paroki Santo Mikael, mari kita dukung pelayanan beliau. Semoga Tuhan Yesus Kristus slalu menyertai langkah hidup kita sekarang dan selama-lamanya. Amin

Ciputra Waterpark - Surabaya

Ciputra Waterpark adalah atraksi taman air terbesar di Indonesia, dibangun di atas lahan 5 hektar, terinspirasi oleh kisah petualangan Sindbad's.

Terletak di kawasan CitraRaya Surabaya Barat, mengundang Anda beserta keluarga untuk memasuki dunia petualangan seperti kisah 1001 malam menggunakan teknologi taman air paling modern.

Ribuan sorakan akan Anda temukan, menjelajahi menara kastil di Sinbad Playground dan merasakan drum air raksasa yang siap untuk menumpahkan 3.000 liter air, percikan gelombang setelah gelombang di pantai Syracuse 1800 meter persegi luas seakan membawa Anda tepat pada tepi laut, dan sambil bersantai dengan keluarga kita dapat menjelajahi sungai buatan 480 meter di Sungai Sirens dan jangan lupa untuk menguji keberanian dan memompa adrenalin Anda di 15 Roc Tower tinggi, di Chimera Pool dan Marina Lagoon mengambil Anda orang-orang terkasih melalui tawa dan sorak-sorai, dengan formasi air mancur tiba-tiba mencuat dalam suksesi
Datang..!! dan Nikmati pengalaman menarik dan sorak-sorai sepanjang hari di Dunia

Selasa, 5 Oktober 2010

Kisah Berdirinya Tugu Pahlawan

Seorang Presiden pada tanggal 10 November 1951 meletakkan batu pertama dari suatu rencana raksasa: Tugu Pahlawan, setinggi 45 meter. Batu itu ditancapkan di tengah-tengah Kota Surabaya, di sebuah tempat bekas reruntuhan gedung yang hancur dalam perjuangan mendirikan negara, di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Bersamaan dengan peletakan batu pertama itu ditanamkan juga sebuah piagam yang berbunyi:
Pada hari ini, Hari Pahlawan 10 November 1951, di Kota Surabaya, P.Y.M.Presiden Republik Indonesia Dr. Ir. Sukarno, dengan disaksikan oleh rakyat Indonesia di Surabaya, berkenan meletakkan batu pertama untuk mendirikanTugu Pahlawan guna memperingati pengorbanan Pahlawan-pahlawan Kemerdekaan Negara dan Bangsa Indonesia pada tanggal 10 November 1945. Semoga Tugu ini, yang diselenggarakan atas nama penduduk Kota Surabaya oleh Kepala Daerah Kota Besar Surabaya, Dul Arnowo, menjadi peringatan rakyat Indonesia sehingga akhir zaman.
Presiden Republik Indonesia, Dr. Ir. Sukarno.
Gubernur Jawa Timur, Samadikun.
Walikota Surabaya, Dul Arnowo.

Isnin, 4 Oktober 2010

Dia Penyelamat Luka Bakar

Miranti Hanindya Ismadi seperti bocah seusianya yang asyik bermain usai pulang sekolah. Umurnya pada 7 Oktober mendatang genap 8 tahun. Padahal enam bulan silam, Miranti adalah anak pemurung. Kulit dadanya melepuh karena tersiram air panas ketika hendak mandi sore. Wajah bungsu duo bersaudara itu murung.

Sore itu Miranti baru saja menyampirkan handuk merah muda di balik pintu kamar mandi. In keluar sesaat untuk mengambil pasta gigi. Ketika melangkah meninggalkan kamar mandi itulah ia bertubrukan dengan Sukeni, pramuwisma di rumahnya, yang membawa air panas. Keruan saja air itu tumpah menyiram dada. la berteriak tolong... tolong...." Danu Ismadi membawanya ke dokter terdekat. Dokter meresepkan antibiotik, luka bakar oles, vitamin, dan kolagen.

Namun, Danu hanya memberikan antibiotik sebagai pencegah infeksi. Obat lain yang diresepkan dokter ditinggalkan. Beberapa menit sebelum ke dokter, Danu mengoleskan jel teripang di atas luka anaknya. "Untuk perbaikan kulit saya lebih percaya pada teripang; kata Danu. Selain obat luar yang dioleskan, Miranti juga mengkonsumsi ekstrak teripang. "Rasanya dingin, panas luka langsung hilang," kata Miranti. Dalam sehari ia mengkonsumsi 3 kali masing-masing 2 sendok makan.

Karapan Sapi

Karapan sapi tidak bisa dilepaskan dari komunitas petani di Pulau Madura. Tradisi memacu sepasang sapi jantan ini, telah mendarah daging bagi mereka. Setelah mereka sibuk memelihara komoditas tembakau, mereka akhirnya memiliki waktu untuk menyalurkan tradisi kerapan sapi.
 Saat-saat menjelang musim panen tembakau, komunitas petani memang memiliki waktu yang cukup untuk memacu sapi piaraannya. Selain di lapangan desa di mana mereka tinggal, para pemilik sapi pacu ini juga menggelar ajang karapan sapi antar desa.

Seperti yang dilakukan kalangan petani di Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Mereka bersenang-senang lewat ajang karapan sapi sekaligus melepas penat setelah tiga bulan merawat ladang tembakau miliknya.

Ahad, 3 Oktober 2010

Energi Sinar Matahari

Energi surya atau matahari telah dimanfaatkan di banyak belahan dunia dan jika dieksplotasi dengan tepat, energi ini berpotensi mampu menyediakan kebutuhan konsumsi energi dunia saat ini dalam waktu yang lebih lama. Matahari dapat digunakan secara langsung untuk memproduksi listrik atau untuk memanaskan bahkan untuk mendinginkan. Potensi masa depat energi surya hanya dibatasi oleh keinginan kita untuk menangkap kesempatan.
Ada banyak cara untuk memanfaatkan energi dari matahari. Tumbuhan mengubah sinar matahari menjadi energi kimia dengan menggunakan fotosintesis. Kita memanfaatkan energi ini dengan memakan dan membakar kayu. Bagimanapun, istilah “tenaga surya” mempunyai arti mengubah sinar matahari secara langsung menjadi panas atau energi listrik untuk kegunaan kita. dua tipe dasar tenaga matahari adalah “sinar matahari” dan “photovoltaic” (photo- cahaya, voltaic=tegangan)Photovoltaic tenaga matahari: melibatkan pembangkit listrik dari cahaya. Rahasia dari proses ini adalah penggunaan bahan semi konduktor yang dapat disesuaikan untuk melepas elektron, pertikel bermuatan negative yang membentuk dasar listrik.

Sabtu, 2 Oktober 2010

Meniran, Jahe dan Mengkudu Harapan Bagi Penderita Tuberkulosis

Aroma mengkudu memang tak sedap sehingga banyak oratig menjauhinya. Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang mematikan itu juga menghindar. Mungkin bukan karena aroma itu, tetapi lantaran si noni menyimpan senjata andalan bemama antrakuinon dan akubin. Kedua senyawa itu bersifat antibakteri sehingga makhluk liliput penyebab penyakit tuberkulosis pun bertekuk lutut.

Dalam pengobatan, mengkudu Morincla citriffilia dipadukan dengan rimpang jahe Zingiber officinalis. Duet buah dan rimpang itu tokcer mengatasi serangan bakteri yang pertama kali ditemukan pada 24 Maret 1882 itu. Ampuhnya obat itu dibuktikan secara klinis oleh Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, periset Sekolah Tinggi Farmasi Institut Teknologi Bandung. Uji klinis dilakukan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM), Cibadak. Bandung. pada awal 2006—September 2007.

Elfin, guru besar ITB mengumpulkan 100 penderita tuberkulosis (TB) kategori I atau stadium awal. Usia mereka 18-55 tahun. Doktor Farmakologi itu mengelompokkan mereka menjadi 4 grup, kecil. masing-masing 25 pasien. Perempuan 56 tahun itu memberikan obat berupa rimpang jahe kepada kelompok 2 dan mengkudu kepada kelompok 3. Ramuan jahe dan mengkudu hanya diberikan kepada kelompok 4. Sayang, Elfin merahasiakan dosis dan frekuensi konsumsi herba itu. Grup pertama merupakan placebo, tidak diberi kombinasi jahe dan mengkudu.