Sabtu, 2 Oktober 2010

Meniran, Jahe dan Mengkudu Harapan Bagi Penderita Tuberkulosis

Aroma mengkudu memang tak sedap sehingga banyak oratig menjauhinya. Bakteri Mycobacterium tuberculosis yang mematikan itu juga menghindar. Mungkin bukan karena aroma itu, tetapi lantaran si noni menyimpan senjata andalan bemama antrakuinon dan akubin. Kedua senyawa itu bersifat antibakteri sehingga makhluk liliput penyebab penyakit tuberkulosis pun bertekuk lutut.

Dalam pengobatan, mengkudu Morincla citriffilia dipadukan dengan rimpang jahe Zingiber officinalis. Duet buah dan rimpang itu tokcer mengatasi serangan bakteri yang pertama kali ditemukan pada 24 Maret 1882 itu. Ampuhnya obat itu dibuktikan secara klinis oleh Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, periset Sekolah Tinggi Farmasi Institut Teknologi Bandung. Uji klinis dilakukan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM), Cibadak. Bandung. pada awal 2006—September 2007.

Elfin, guru besar ITB mengumpulkan 100 penderita tuberkulosis (TB) kategori I atau stadium awal. Usia mereka 18-55 tahun. Doktor Farmakologi itu mengelompokkan mereka menjadi 4 grup, kecil. masing-masing 25 pasien. Perempuan 56 tahun itu memberikan obat berupa rimpang jahe kepada kelompok 2 dan mengkudu kepada kelompok 3. Ramuan jahe dan mengkudu hanya diberikan kepada kelompok 4. Sayang, Elfin merahasiakan dosis dan frekuensi konsumsi herba itu. Grup pertama merupakan placebo, tidak diberi kombinasi jahe dan mengkudu.
Sembuh total
Alumnus Institut Teknologi Bandung itu memantau kesehatan mereka selama 6 bulan. Dua pekan pertama, jumlah bakteri tahan asam (BTA) kelompok yang diberi mengkudu-jahe turun 30%. BTA kelompok ke-2 dan 3 juga turun, tetapi penurunannya lebih kecil.

Mycobacterium tuberculosis memang tahan asam. Setlah diberi cairan ziehl neelsen bakteri berukuran 0,2 x 1,4 mikrometer itu menjadi merah. Nah ketika disiram cairan bersifat asam seperti asam sulfat dan asam sitrat, tidak ada perubahan warna. Bakteri yang tak tahan asam, berubah menjadi biru.
Elin mengatakan setelah 2 bulan pasien yang diberi kombinasi jahe-mengkudu sembuh. "Jumlah bakteri tahan asam berkurang drastis, bahkan nyaris tidak ada," katanya. Namun. karena pemerintah mempunyai kebijakan pengobatan pasien TB selama 6 bulan, Elin meneruskan pengobatan hingga setengah tahun. Hasilnya menggembirakan, selain kelompok pertama, semua pasienTB itu sembuh total. Artinya, mengkudu dan jahe mujarab mengatasi tuberkulosis.
Elfin memadukan mengkudu dan jahe untuk mengobati TB lantaran, Dari hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa mengkudu mempunyai efek antibakteri;' kata kelahiran 1952 itu. Sementara jahe sering digunakan masyarakat untuk mengobati batuk berdahak. "Batuk dan batuk berdahak erat kaitannya dengan tuberkulosis. Dari hasil penelitian, ekstrak jahe dan mengkudu ternyata mempunyai khasiat lebill efektif dalam membunuh mikroba penyebab tuberculosis,” ujarnya.

Perpaduan ekstrak jahe dan mengkudu itu mampu menyempurnakan obat standar resep dokter seperti rifampisin serta pirazinamid yang selama ini digunakan untuk mengatasi TB. Bagi yang tidak cocok mengkonsumsi obat-obatan dokter itu, menyebabkan gangguan hati. Namun, "Dengan disertai konsumsi jahe dan mengkudu, hal itu tidak terjadi: kata ibu 3 anak itu. Ekstrak jahe dan mengkudu juga mencegah resistensi. Menurut Elin bila dalam 2 pekan pasien yang mengkonsumsi obat standar itu tidak sembuh, bakteri menjadi resisten. Akihatnya dosis harus ditingkatkan.

Antibakteri
Mengapa mengkudu dan jahe tokcer menyembuhkan penyakit yang disebabkan bakteri berbentuk batang itu? Kedua bahan itu kaya senyawa antibakteri. Jahe, umpamanya, mempunyai gingerol yang bersifat antibakteri. Demikian juga mengkudu yang mengandung senyawa aktif antrakuinon, acubin, asperuloside, dan alizarin. Keempat senyawa itu juga digdaya menumpas bakteri yang ditemukan oleh Robert Koch itu.
Kedua bahan itu mempunyai sifat antibakteri lebih kuat ketika disatukan. Sebaliknya bila dipisah, kekuatannya berkurang. Elfin pernah memisahkan setiap kandungan dalam mengkudu dan jahe dengan pelarut berbeda. Ternyata khasiatnya tidak sebaik jika kandungannya digabungkan. "Jadi, tidak bisa diklaim hanya berdasarkan satu komponen saja, melainkan harus digabungkan," kata istri Ukan Sukandar, dosen Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITB itu.

Menurut Sarah Kriswanti, herbalis di Bandung, Jawa Barat, jahe dan mengkudu juga bersifat imunostimulan alias meningkatkan daya tahan tubuh. Riset ilmiah membuktikannya. Menurut S.G Franzblau dan R.T Rosent periset The State University of New Jersey, gingerol dalam jahe mampu meningkatkan daya tahan tubuh dan membunuh bakteri penyebab TB. Jonel Saludes periset University of Santo Tomas, Manila, Filipina, menemukan senyawa antibakteri dalam buah noni.

Duet mengkudu dan jahe menyusul meniran yang lebih dulu diuji klinis sebagai penyembuh tuberkulosis. Dokter Zulkilli Amin PhD FCCP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menguji Minis meniran. Hasilnya Phyllanthus niruri itu terbukti sebagai anti tuberkulosis. Pemberian 50 mg kapsul meniran selama 3 kali sehari menyembuhkan TB pada pekan ke-6 atau lebih cepat 8 minggu dihandingkan pasien yang tidak mengkonsumsi meniran.

Kalangan herbalis mengenal meniran sebagai imunomodulator alias penguat sistem kekebalan tubuh. Ketika kekebalan tubuh meningkat, bibit-bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh dapat dilemahkan. Menurut Dr Suprapto Maat dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, salah satu fungsi sistem imun adalah pertahanan. Intinya menangkal bahan berbahaya agar tubuh tidak sakit. Jika sel-sel imun diganggu. orang rentan sakit.

Dengan riset itu, semakin banyak pilihan obat untuk mencegah atau mengatasi penyakit yang menyerang organ paru-paru. Itu menjadi harapan bagi para pasien tuberkulosis untuk mengakhiri penderitaannya. Harap mafhum, Indonesia pasien TB ke-3 terbesar di dunia setelah Tiongkok dan India. (Lath Marliani)
Sumber : Trubus, Maret 2008


Tiada ulasan: